www.sbobet.com

Hard Case : Autobiografi legenda Liverpool, Jimmy Case

Hard Case : Autobiografi legenda Liverpool, Jimmy Case
Hard Case : Autobiografi legenda Liverpool, Jimmy Case, – Edisi liga Inggris kali ini akan menyorot sosok tokoh pahlawan yang justru jarang sekali menjadi pemberitaan, Jimmy Case. Bersamaan dengan dirilisnya autobiografinya kita akan sedikit mengenang tokoh ini yang sepanjang karirnya bermain bersama Liverpool, Brighton, Southampton dan Halifax.

Ketika kita di ingatkan akan pemain-pemain Liverpool di era 1970-an hingga 1980-an, yang langsung berada dibenak kita tentunya adalah Keegan, Rush dan tentu saja Dalglish. Memang sebagai pesepakbola, peran dari Jimmy Case tidak sevital pemain-pemain tersebut diatas, namun apa yang ditawarkan oleh seorang Jimmy Case kepada penggemar Liverpool adalah seorang homegrown player, produk asli dari binaan akademi yang bersinar diantara pemain-pemain terbaik Eropa lainnya.

Case, dibesarkan didaerah Allerton – tempat yang sama dengan Paul McCartney anggota The Beatles yang tersohor itu. Case dapat juga dipandang sebagai sosok representatif, tidak hanya untuk Liverpool Football Club namun juga secara luas sebagai perwakilan dari kota Liverpool itu sendiri.

Case menuliskan sejak masa muda, dia merupakan seorang yang dibesarkan oleh lingkungan gila bola, bahkan seingatnya semasa kanak-kanak, rumahnya segalanya serba merah khas Liverpool.

“Coming from Liverpool, I knew everytime I went out on the pitch I had to give 100 per cent. I knew I could never pull out of a tackle, even if it was 60-40 against and I was likely to get hurt because I was representing them and they were my people.”

Sepenggal kalimat diatas merupakan hal yang tentu saja sangat ingin dibaca oleh seluruh penggemar Liverpool. Dan sebagai permulaan kita akan mengulasnya sejak awal karir hingga masuk ke tim utama Liverpool FC.

Memulai karir dibawah manager legendaris Liverpool, Bill Shankly, membutuhkan waktu hingga beberapa tahun untuk Case agar dapat menunjukkan pengaruhnya dalam seluruh skuad. Dia masih sangat ingat, di tahun 1973 merupakan tahun awal dia memperoleh kesan positif dari rekan setim dan tim kepelatihan di Liverpool, kala itu Case muda menunjukkan gaya sepakbola yang amat agresif dan sangat enak ditonton.

Case menambahkan kalau gaya permainannya sangat dipengaruhi oleh Tommy Smith dibandingkan pemain idolanya Ian Callaghan. Setelah mendapatkan kontrak pertamanya bersama The Reds, Liverpool dipenuhi oleh sekumpulan pemain muda berbakat.

Case pun menuturkan kalau-kalau masa-masa awalnya sangat berat dan dia nyaris frustasi. Dia melukiskan gambaran dirinya ketika itu sebagai “pemain ke 13” di skuad. Kala itu pertandingan sepakbola masih menganut, pergantian pemain hanya diperbolehkan sekali saja.

Namun akhirnya Case memperoleh kesempatan yang telah ditunggu-tunggunya, masuk ke skuad utama, dipertandingan terakhir musim 1974/1975 melawan QPR. Case menuturkan malam harinya dia tidak dapat tidur nyenyak begitu mengetahui keesokan harinya, dia akan turun bermain sebagai starter.

Keesokan harinya, turun sebagai starter dalam pertandingan debutnya menjadi hari yang tidak terlupakan untuk Jimmy Case. Membantu Liverpool meraih kemenangan 3 – 0 lewat sumbangan dua assist, sejak itu Case terus menjadi pilihan utama Shankly dan pelatih sesudahnya, Bob Paisley.

“They say you should be careful what you wish for, but for me that was the start of an eight-year magic carpet ride when all my dreams would come true.”

Mungkin sepenggal kalimat diatas sedikit terasa sentimentil, namun bagi sebagian pemain kesempatan tersebut tentunya sangat berarti. Tempatnya di tim inti Liverpool jelas merupakan contoh dari kerja keras dan etos kerja yang tinggi. Peran dari Jimmy Case juga teramat sentral di kemudian hari bersama Bob Paisley meraih gelar-gelar di liga domestik dan Eropa.

Mungkin penampilan paling cemerlang dari seorang Jimmy Case terjadi di kejuaraan Eropa yang berhasil diraihnya sebanyak tiga kali bersama Liverpool. Tahun 1976, dia membantu Liverpool meraih gelar Piala UEFA yang ditambah dengan gelar liga domestik.

Pencapain lebih tinggi kemudian diraihnya semusim berikutnya dengan merengkuh gelar European Cup ( kini liga Champions ) menjadi gelar pertama Liverpool diajang kompetisi tertinggi antar klub di benua biru. Case merupakan bagian dari tim inti si merah dalam kesuksesan yang diraih pada tahun 1977 tersebut, mencetak gol di pertandingan semifinal melawan Zurich.

Paisley manager Liverpool ketika itu, memang menargetkan gelar juara European Cup ini Kesuksesan di kompetisi liga domestik hanya dianggap sebagai bonus saja ketika itu dan kekalahan mereka dari Manchester United di ajang final Piala FA menjadi salah satu noda yang tertutup oleh kegemilangan Liverpool di musim tersebut.

Namun bagi Jimmy Case, kekalahan tersebut menyisakan memori buruk baginya dan menginginkan pembalasan. Liverpool pun mendapatkan kesempatan tersebut dengan cepat, bertemu dengan Borussia Monchengladbach di Roma dalam partai final European Cup.

Jimmy Case meluapkan kegembiraannya setelah Liverpool memastikan kembali menjadi juara Eropa. Oleh Case reaksi kemenangan mereka malam itu diibaratkan sebagai  ‘mother of all celebrations’.

Semusim setelahnya, Case kembali meraih gelar Eropa ketiga untuk Liverpool dan sekali lagi mencetak gol di babak semifinal. Segalanya berjalan hampir mirip dengan semusim sebelumnya, namun bedanya kali ini bintang baru Kenny Dalglish masuk menggantikan Kevin Keegan.

“Kenny was different. He would  get the ball, look across the pitch towards Steve Heighway on the left and at the same time clip a reverse pass with his left foot without looking, just inside and beyond the full-back, where, in his mind, I should be – oh, and by the way, that is precisely where I was…such vision and awareness.”

Walaupun bergelimang trophy ditingkat klub, namun salah satu kekurangan dari perjalanan karirnya adalah dia tak sekalipun mendapat panggilan dari tim nasional Inggris. Ketika pertanyaan tentang siapa pemain yang pantas mendapatkan tempat di tim nasional Inggris masa itu digulirkan saat ini, tanpa ragu orang-orang akan menjawab Jimmy Case.

Dalam buku autobiografinya dia menuliskan bahwa dia pernah membela salah satu klub tersukses di sepanjang sejarah liga Inggris dengan mendapatkan tiga gelar Eropa ( liga Champions ), empat gelar liga, dan sebuah penghargaan individu pemain muda terbaik Eropa. Namun Case selalu menaruh harapan kalau suatu hari dia akan mendapatkan panggilan tersebut ( membela tim nasional ).

Apalagi setelah dia menyadari bahwa seorang Ian Callaghan saja, hanya memperoleh 5 caps bersama tim nasional Inggris. Sudah umum dimasa tahun 1970-an tersebut bahwa seorang pemain memang sangat sulit untuk memiliki tempat di skuad tim nasional Inggris, mengingat persaingan yang sangat ketat.

Namun banyak kalangan yang berpendapat kemudian, bahwa peruntungan dari Inggris mungkin saja bisa berubah jika memiliki Jimmy Case didalam skuad utama. Case yang kecewa kemudian melontarkan sebuah quote dari Bob Paisley kita manager Liverpool tersebut ditanya tentang kenapa Inggris tidak bisa memperoleh kesuksesan yang sama seperti dialami Liverpool ? Jawaban dari Paisley sangat singkat, karena Inggris tidak memiliki Jimmy Case.

“I’ve lost count of the number of people who have asked how many caps I won and they cannot believe it when I tell them I didn’t get a single one. I’m still not sure why I never got the chance. It wasn’t as if England were pulling up any trees at the time.”  

Setelah bersama Liverpool karir Case kemudian dilanjutkan bersama Brighton, namun sebenarnya pemilihan tim ini justru dilakukan oleh pihak klub sendiri dibanding pilihannya. Kenapa ? Case menjadi bagian dari pertukaran pemain, Liverpool kala itu sangat menginginkan Mark Lawrenson, dan dipilihlah Case sebagai bagian dari pembelian pemain tersebut.

Case mengaku tidak merasa sedih dan sangat menikmati karirnya bersama Brighton, dia tidak mempermasalahkan jika tidak lagi memiliki kesempatan untuk bermain di Eropa, baginya dapat bermain di kompetisi yang kompetitif sudah cukup.

Bersama tim asal selatan Inggris tersebut, Case mencapai lagi babak final Piala FA, ironisnya sekali lagi harus menelan kekalahan di Wembley.

Setelah Brighton, Case pindah ke Southampton, dimana dia bertahan hingga 6 musim. Di Southampton, Jimmy Case dapat kembali bermain dengan pemain-pemain hebat lainnya ,Alan Shearer dan Matt Le Tissier, dua pemain yang memiliki bakat luar biasa.

Bersama Southampton Case pun tampak sangat menikmati masa-masa tersebut. Bahkan menurutnya, ketidak mampuan mereka meraih gelar dalam 6 tahun kebersamaannya bersama Southampton merupakan salah satu penyesalannya sebagai pemain sepakbola.

Pemain ini tentunya menjadi pemain yang patut dikenang oleh Liverpool dan seluruh penggemar sepakbola di seluruh dunia. Seorang pemain yang memiliki pengaruh besar dan memiliki impact luar biasa dalam setiap penampilannya.

Silakan daftar untuk memasang taruhan bola Liga Inggris, Dengan anda bergabung bersama Indoklik88 yang merupakan agen resmi SBOBET di Indonesia. Maka anda akan mendapatkan akun ID secara gratis serta mendapatkan bonus dari game yang pertama kali anda mainkan.

ID Akun resmi ini sudah support dengan bank lokal seperti BCA, BNI, BRI, atau Mandiri sehingga dengan minimal deposit Rp 50.000,- dan minimal taruhan adalah Rp. 25.000, anda sudah dapat bermain - Jadi, Langsung saja anda melakukan registrasi akun SBOBET, Maxbet, atau 368bet di bawah ini!

Silahkan hubungi Customer service jika ada pertanyaan atau panduan teksnis lainnya
SMS : +855-77976536
BBM : 2B42F147
WhatsApp : +855-77976536
ID Wechat: indoklik88
ID line: indoklik88

About

daftar cf88id daftar s1288 agen judi tembak ikan game judi tembak ikan daftar maxbet poker online uang asli Cara Daftar SBOBET Casino 338a link maxbet link sbobet cara buat akun sbobet daftar spade77 cara daftar ion777 cara register id akun maxbet sbobet mobile login ion casino daftar maxbet cara registrasi id sbobet daftar pokerplace88 domino online daftar game tembak ikan android s128 sabung ayam online s128 cara download poker android